Selamat datang teman2 semua. Thanks udah mau mampir ke blog ini. Sorry klo isinya cuma keluh kesah dan cerita2 gak menarik. Maklum masih baru dalam hal tulis menulis!

Saturday, October 27, 2012

Tresno jalaran seko kulino

Percakapan gak penting antara Jj dan Siska (bukan nama sebenarnya).

Jj : "Denger2 kamu udah d lamar ya...?"

Siska : "Bukan di lamar mas, cuma di kasi hadiah sama ortu pacarku"

Jj : "Hadiah apa?"

Siska : "Gelang emas, kalung emas, ada cincin juga, pokoknya banyak"

 Jj : "Wuiiih, enak rek"

Siska : "Kata ortu pacarku gini, 'Dek siska, ini bukan lamaran, cuma hadiah. Dek siska gak usah merasa gak enak atas hadiah ini. Dek siska silakan pikir2 dulu', gitu katanya mas"

Jj : "Y podo bei.. Itu artinya kamu udah di ikat. Emas kan pengikat pernikahan menurut tradisi jawa".
 (Katanya sih, aku y gak ngerti sakjane... hehehe... )

Siska : "Iyo ta mas...?"

Jj : "Y iyo lah"

Siska : "Trus piye mas...?"

Jj : "Sekarang aku tanya, kamu pilih mana, diikat sama emas segudang apa cinta sejati segudang?"

(Tanpa pikir panjang, siska langsung menjawab)
Siska : "Y segudang emas lah mas. Tresno jalaran seko kulino, yang penting makmur dulu..."

Jj : "Oohhh, cewek matre koen...!!!"

Siska : "Hahahaha...!!!". (Suara tawanya khas penjahat psikopat kayak di pilem2.)


Mungkin memang benar, klo cinta sejati cuma ada di cerita 'Romeo dan Juliet', atau kisahnya 'Roro Mendut'.



(Based on true story, dengan sedikit perubahan namun tidak mengurangi maksud dari isi cerita)

Saturday, August 25, 2012

Adik manis penebus dosa

Suara klakson kapal feri mengagetkanku. Hari terlihat cerah, dan ombak pun terlihat bersahabat. Namun tidak banyak kendaraan yang masuk kapal waktu itu. Aku duduk di tempat khusus penumpang di lantai 2. Penumpang kapal pun tidak terlalu berjejal. Masih ada beberapa bangku kosong. 

Kapal feri yang aku naiki hanya punya 1 lantai khusus penumpang. Sedang di lantai 3 tempat bagi nahkoda beserta para kru. Lantai 2 selain untuk penumpang, juga ada kantin di belakangku. Dan jauh di depan sana ada toilet umum. Namanya juga toilet umum, baunya minta ampun. Aku yang duduk jauh di belakang masih menghirup sisa2 kencing para penumpang yang tidak disiram. Makanya aku tidak pernah suka di tempat ini. Lebih baik di lantai 3, walaupun anginnya kenceng, setidaknya udara segar yang kuhirup. 

Tidak lama setelah kapal berangkat, terlihat seseorang berdiri di depan dan berkata seraya berteriak, “Selamat datang bagi para penumpang. Saya disini ingin memperkenalkan buku2 bagi anak bapak/ibu sekalian. Buku ini sangat cocok sebagai oleh2 ataupun hadiah bagi anak, ponakan, atau cucu bapak/ibu sekalian. Buku yang ingin saya tawarkan diantaranya, buku Cerita Rakyat Indonesia, buku Belajar Bahasa Inggris, ada juga buku saku kamus bahasa Inggris-Indonesia, dan banyak lagi. Harganya cuma Rp.15.000,-. Klo bapak/ibu membeli buku ini, akan saya kasi sebuah hadiah, satu buah tas kresek...gratis. Silakan dilihat-lihat dulu. Klo ada yang cocok silakan membeli.”. Penjual itu berjalan dari depan ke belakang menuju arahku sambil membagikan buku2nya untuk dilihat para calon pembeli. 

Selang beberapa menit, ada seorang “adik manis” yang dari tadi berdiri dibelakang penjual buku, dan membawa setumpuk amplop berwarna putih. Adik tersebut sepertinya sedang menunggu giliran untuk memasarkan dagangannya, berupa “sedikit bekal untuk di akhirat nanti”. Ia berjalan dari depan ke belakang sambil memberikan satu buah amplop untuk satu penumpang. Para penumpang pun seperti sudah mengerti maksud dan tujuan pemberian amplop tersebut, tanpa ada kata pengantar dari si “adik manis”. 

Usia adik itu mungkin sekitar 15-17 tahun. Terlihat anggun dengan jilbab coklat tua, dan sebuah hiasan kecil berupa rantai silver dengan beberapa bandul, tergantung di samping jilbab coklatnya. Memakai kaos coklat lengan panjang dengan bawahan jeans. Diantara semua orang yang ada di ruang penumpang saat itu, cuma adik itu yang menarik perhatianku.

Aku masih sibuk dengan buku memoku. Berusaha menulis sebuah kejadian yang aku alami saat ada di bis sebelumnya. Dan kebetulan, aku duduk sendirian di belakang, yang tidak di beri buku untuk dilihat, ataupun sebuah amplop untuk ku isi. Mungkin karena aku terlihat sebagai calon pembeli yang buruk, dan seseorang  dengan dosa segudang, sehingga berapapun kuisi amplop tersebut tidak akan berguna. Entahlah, yang jelas pandanganku masih tertuju pada “Adik manis penebus dosa”.

Wednesday, August 22, 2012

Seniman Jalanan


Suatu ketika, di dalam bis jurusan  "Jember - Denpasar".

2 orang pengamen sedang mempertontonkan keahliannya dalam mengolah lagu "bagus" menjadi lagu "Fales". Setelah selesai dengan aksinya, ia pun mulai berjalan dari depan bis ke belakang sambil memegang sebuah topi terbalik, sementara seorang lagi asyik dengan lagu pop Indonesia yang telah diaransement ulang entah oleh siapa. Yang jelas bukan oleh Erwin Gutawa, karena lirik, vokal, dan musiknya " gak tepak blazzz...".

Pengamen 1 : "Permisi mas, ngamen...!!!", kepada seorang penumpang.

Seperti sebuah kalimat sakti, penumpang tersebut langsung merogoh kantongnya dan mengambil sebuah uang Rp. 1.000,- untuk diberikan kepada si pengamen. Demikian seterusnya, kalimat itu telah menyihir banyak penumpang dalam bis. Ada yang ngasi uang kertas, tapi ada pula yang ngasi uang receh.

Akhirnya, si pengamen sampai di depanku.

Pengamen 1 : "Permisi mas, ngamen...!!!".

Aku mulai merogoh kantong celana dan menemukan sebuah uang receh Rp. 200,-

Aku : "Berdua mas, sama temenku...!!!", sambil menunjuk temanku yang duduk tepat di sebelahku.

Pengamen 1 : "Mas..mas, masak Rp.200,- buat berdua...!!!"

Aku : "Sory mas, gak ada lagi...".

Pengamen 1 : "Alah mas..mas. Klo gitu minta rokoknya...!!!", yang kebetulan saat itu aku memang sedang merokok.

Aku : "Aduh sory mas, tinggal 1 ini", sambil menunjukkan rokok di tanganku yang tinggal separo.

Pengamen 1 : "Wis...wis", dengan wajah tak terima ia pun pergi ke belakang bis mencari korban2 selanjutnya.

Sebenarnya, uang recehku banyak. Memang sengaja aku sisakan untuk para pengamen2 lainnya, yang nanti pasti ada lagi. Bagi2 rejeki lah, masak aku habiskan semua buat 1 pengamen. Ngamennya udah gak niat, asal nyanyi, suaranya fales gak karuan.

Sebenarnya juga, rokokku masih banyak. Tapi karena ia tidak meminta dengan sopan, jadi aku bilang aja udah habis.

Dalam perjalanan dari Jember ke Banyuangi, cuma sedikit pengamen yang benar2 mendedikasikan diri dengan pekerjaannya. Biasanya klo ada pengamen yang berdedikasi, suaranya pas, gitarannya juga gak asal bunyi, tidak segan aku merogoh dompet dan mengambil uang Rp.1.000,-. Klo yang gak niat, aku kasi Rp.100,- udah syukur.

Kemana para pengamen yang katanya "Seniman jalanan".

Sunday, August 19, 2012

Seandainya saja...

Seandainya saja...

Sebuah kata yang sering ku pakai jika sedang menyesali sesuatu hal. Suatu kejadian di masa lampau, yang mungkin saja memiliki hasil yang berbeda saat ini, "seandainya saja" sikapku berbeda pada saat itu.

Seandainya saja...

Sebuah kata yang sangat kuat, bisa bersifat +/-, tergantung tingkat kewarasan otakku dalam mencernanya. Tapi kata tersebut bukan faktor utama atas perubahan sikap dan pandanganku saat ini. Tetap, roda kehidupan yang senantiasa selalu berputar yang akan menyadarkanku atas kesalahan2 yang telah kuperbuat.

Pengalaman mengajarkan, sikap dan cara pandang kita terhadap dunia akan berubah saat kita berada di titik tertinggi/terendah dari roda kehidupan.

Monday, July 23, 2012

Semua ada masanya




Dapet dari FB salah satu temen (gak ruh sopo...), skarang aku share lagi...!!! Enak ya, gak perlu nulis, tinggal copas...hehehe...!!!

Thursday, July 12, 2012

Love u Mom...

Seorang anak bertanya kepada Tuhannya, "Ya Tuhan, kenapa bundaku suka menangis?". 

Tuhan menjawab, "Karena bundamu seorang wanita. Aku ciptakan ia sebagai makhluk yang sangat istimewa. Aku kuatkan bahunya untuk menjaga anak2nya. Aku lembutkan hatinya untuk memberi rasa aman. Aku kuatkan rahimnya untuk menyimpan benih manusia. Aku teguhkan hatinya untuk terus berjuang disaat orang menyerah. Aku beri ia rasa sensitif untuk mencintai anak2nya dalam keadaan apapun. Aku kuatkan batinnya untuk tetap menyayangi mesti disakiti oleh anak2 dan suaminya sekalipun. Aku beri dia kekuatan untuk mendorong suaminya untuk belajar dari kesalahan. Aku beri ia keindahan untuk menjaga batin suaminya.". 

"Bundamu adalah makhluk yang sangat kuat. Jika suatu saat kau melihatnya menangis, itu karena Aku beri dia air mata untuk bisa dipergunakan sewaktu2 untuk membasuh luka batinnya sekaligus memberinya kekuatan baru."


Cerita ini aku dapatkan lewat sebuah SMS entah dari sapa pada hari ibu tahun lalu.

Pages