Secara gak sengaja aku menemukan sebuah postingan
menarik. Tentang sebuah konsep, pemikiran tentang neraka dan surga. Tulisan ini
membuat aku mulai mempertanyakan doa2 yang setiap hari aku panjatkan. Aku
repost bukan untuk mengahasut atau mencuci otak kalian, tapi mungkin bisa kita
jadikan bahan pertimbangan dan perenungan tentang "Apakah kita benar2
berdoa sebagai rasa syukur atas semua yang telah diberikan olehNya atau hanya
untuk menjamin agar kita masuk surga".
Jawabannya mungkin ada di sudut terdalam lubuk
hati kita.
Suatu ketika saya dihadapkan pada sebuah
pertanyaan yang dilontarkan oleh isi kepala saya sendiri. Pertanyaannya cukup
bombastis; mana yang lebih menarik, neraka atau surga?
“Tentu, saya ingin ke surga.
Tapi, keinginan untuk pergi ke
surga itu jauh lebih kecil,
dibandingkan dengan keinginan
untuk menghindari neraka.”
Tentunya, pikiran cepat yang terlintas adalah
surga. Pikiran itu terlintas begitu cepat — seakan-akan jawaban bahwa ‘surga
itu lebih menarik daripada neraka,’ adalah sebuah aksiom sederhana. Bunyinya ya
begitu; surga lebih menarik daripada neraka.
Apa benar?
Mungkin tidak.
Pada dasarnya, hal yang ‘menarik’ adalah hal yang
lebih sering kita berikan perhatian. Pikiran kita sering didedikasikan supaya
tertuju ke sana. Dan, konsekuensinya, telinga kita menjadi lebih sensitif
apabila namanya disebutkan, serta intuisi kita menjadi lebih aktif
menghubungkannya dengan peristiwa-peristiwa lain.
Kalau caranya seperti itu, jujur saja, neraka
lebih menarik buat saya.
Sebab, pikiran saya jauh lebih sering digunakan
untuk memikirkan neraka, ketimbang surga. Jauh lebih sering. Karena
kenyataannya, saya tidak terlalu sering berkhayal tentang kenikmatan yang
ditawarkan oleh surga — sebaliknya, saya sering sekali merasa cemas tentang
siksaan yang kerap kali dipromosikan oleh neraka. Ini terkadang membuat saya
berpikir. Barangkali, motivasi terbesar saya untuk menginginkan surga adalah
semata-mata karena surga adalah satu-satunya alternatif neraka. Karena, kalau
tidak mau ditendang ke neraka, satu-satunya jalan adalah meraih surga.
Surga sebagai pelarian
Coba kita buat satu alternatif lain selain surga
dan neraka, barangkali penghapusan eksistensi? Ya, keyakinan ini dianut oleh beberapa
aliran kepercayaan, seperti Jehovah’s Witnesses
pada konteks Kristiani. Bagaimana kalau seandainya doktrin yang disuapkan ke
mulut saya adalah yang seperti itu? Alternatifnya adalah masuk surga dan
bahagia selamanya atau hilang sama sekali. Kalau sudah begitu, barangkali saya
akan berbuat seenaknya di dunia ini. Sebab dosa itu nikmat. Tidak masuk surga
pun tidak apa. Yang penting, tidak masuk neraka :)
Jadi, fungsi surga itu terkadang hanya sebagai
pelarian supaya tidak nyungsep ke dalam api neraka. ‘Kebetulan’, surga itu
menyediakan kenikmatan yang tiada tara. Padahal sebenarnya, kalaupun surga itu
menyerupai dunia, tidak apa. Lebih baik bukan, ketimbang dipanggang di neraka?
Hal ini menjadikan kenikmatan surga itu hanya sebagai ‘bonus’ saja. Sebab
fungsi utama surga bagi banyak orang mungkin hanya sebagai alat supaya
bisa menghindari siksaan. Sebagai suaka.
Surga dan neraka: Analogi duniawi
Apa konsep seperti ini bisa diterima? Bisa saja,
misalnya dibawa ke konteks berorganisasi. Terdapat contoh sederhana; yaitu
dalam bersekolah/berkuliah. Tapi mari kita ambil contoh rumit; bernegara. Pada
keduanya, konsep ‘neraka’ juga berhasil unggul dibandingkan konsep ‘surga’.
Analoginya, berapa orang dari kita yang tertarik
mendapatkan medali-medali penghargaan sebagai warga negara budiman? Kalaupun
niat itu ada, tentunya ketertarikan itu jauh lebih kecil dibandingkan dengan
rasa takut menjadi buronan negara :lol:
Hal yang bisa disimpulkan sejauh ini, bahwa
manusia cenderung lebih menghindari penderitaan, daripada meraih kebahagiaan.
Mungkit sifatnya duniawi, tapi juga manusiawi — dan itu bakal terus dipakai
sampai ke akhirat kelak.
Rahasia umum
Kebanyakan orang sudah menyadari kecenderungan
ini. Gejala-gejalanya sudah tampak dari jauh-jauh hari. Para imam dan ustadz,
atau pemuka agama secara keseluruhan, kebanyakan lebih tertarik
mendakwahkan sekarung laknat — liang kubur yang terus merapat, mayat yang
terlipat, serta jasad dengan belatung yang menggeliat. Dahsyat.
Umat pun terpana dibuatnya. Bayangan neraka pun
(menurut saya) tervisualisasi melebihi kadar keperluannya. Imbasnya,
penggambaran neraka (dan surga) pun menjadi lebih ‘duniawi’. Kesengsaraan
neraka pun entah sejak kapan divisualisasikan sebagai siksaan a la dunia (dan
kenikmatan surga pun menjadi kenikmatan a la dunia). Padahal, semuanya masih
abstrak. Apa penyebabnya? Ketakutan. Paranoia.
Wajar, siapa yang mau dilaknat di neraka? Apalagi
selama-lamanya. Bayangkan. Selama-lamanya. Penderitaan yang abadi.
Paradoks manusia
Sebenarnya kalau dipikirkan lebih jauh, mungkin
tidak satupun dari kita yang pantas ditraktir selamanya menikmati surga. Tidak
ada. Kuncinya adalah ‘selamanya’ itu. Hadiah tanpa batas hanya pantas diberikan
pada amalan tanpa batas. Amalan tanpa batas hanya mungkin diwujudkan dengan
waktu tanpa batas. Kesimpulannya, hanya orang yang hidup selamanya dan terus
berbuat baik yang pantas dihadiahkan surga. Tapi, apabila dia hidup selamanya
dan terus berbuat baik, kapan dia mesti dihadiahkan surga? Satu-satunya opsi
yang memungkinkan adalah terus berbuat baik sambil mengamalkan surga. Tapi
paradoks ini terus berlanjut — berusaha berbuat baik sebagai bentuk dari usaha,
seharusnya tidak ada di surga.
Dan sebaliknya, tidak satupun dari kita yang
pantas dihukum selamanya di neraka. Hukuman tanpa batas hanya pantas dijatuhkan
atas dosa tanpa batas. Dosa tanpa batas hanya mungkin dilakukan dengan waktu
tanpa batas. Lalu, tentunya hanya orang yang hidup selamanya yang pantas
dihukum selamanya. Dan tidak mungkin, orang melakukan dosa (yang kebanyakan
nikmat tersebut) sambil disiksa di neraka.
Pada saat seperti inilah, pandangan apa yang
diambil tergantung pada pandangan kita pada yang Maha Penguasa sendiri. Ada dua
atribut yang berperan di sini; atribut-Nya sebagai Maha Pengasih (dan Maha
Pemaaf) serta sebagai Maha Adil. Segala bentuk hukuman dari Allah adalah
refleksi dari sifat Maha Adil tersebut. Allah tidak kejam. Hukuman adalah
konsekuensi dari keadilan. Lalu?
Berarti, suatu ketika pahala yang diperbuat
penghuni surga akan impas dibayar Allah melalui jamuannya di surga.
Dan, suatu ketika dosa yang diperbuat penghuni
neraka akan terbayar melalui siksaan yang diterimanya.
Sifat Maha Adil-Nya pun terpenuhi.
Setelah itu? Terserah pandangan anda tentang-Nya.
Kalau menurut saya, saat inilah sifat Maha Pengasih-Nya akan berperan ;)
Semuanya tergantung anda mau melihat Tuhan anda sebagai diktator megalomaniak
yang punya kekuasaan tiada batas, atau sebagai zat Maha Segala-galanya yang
mengandung segala kebaikan, tanpa batas.
Kalau saya boleh memilih
Katakanlah besok amalan saya tidak cukup dan saya
sudah hendak dicemplungkan malaikat ke arah neraka. Kalau saya diperbolehkan
untuk memilih, saya lebih memilih buat dihapus saja. Tuhan bisa membuat saya,
tentu juga bisa menghapus selamanya. Hapus saja. Shift+delete, enter. Lenyap
tanpa sisa. Kalau sudah dihadapkan pada yang seperti itu, saya sudah tidak
peduli dengan yang namanya surga. Kalau saya ternyata hendak dilempar ke neraka
selama-lamanya, kemungkinan saya tidak akan minta surga lagi. Persetan. Hapus
saja saya, hilangkan. Saya lebih suka begitu.
* * *
Saya akui, saya lebih tertarik pada neraka dari
pada surga. Saya lebih sering memikirkan neraka, dan berusaha menghindarinya,
ketimbang memikirkan dan mendambakan surga. Tertarik tidak berarti menginginkan
bukan? Analoginya barangkali aktivis wanita yang tertarik pada masalah
kekerasan rumah tangga… Bukan berarti dia menyukai perbuatan bejat tersebut.
Jadi, begini. Saya ingin masuk surga. Ingin
sekali. Tapi keinginan itu jauh lebih kecil dibandingkan dengan keinginan saya
untuk menghindari neraka. Jadi, kalau saya tidak akan dimasukkan ke surga,
lebih baik hilangkan saja. Apa sulitnya menghilangkan sebuah eksistensi?
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Catatan tidak penting:
Come about, I suppose the girl that represents
hell in the above picture was a lot hotter than the one that represents heaven…
:mrgreen:
Was it the fire background or her… The latter,
perhaps :oops:
(Sumber: https://rosenqueencompany.wordpress.com/2007/04/07/ternyata-neraka-lebih-menarik-daripada-surga/ )
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
So.. Bagaimana menurut kalian..????
2 Comments
Tak kira mas jel yang nulis ini.. 😄😄😄😄😄
ReplyDeleteTak kira mas jel yang nulis ini.. 😄😄😄😄😄
ReplyDelete